Johatoon for Cartoon
Rabu, 30/12/2009 13:02 WIB
KNRP - Sebuah gambar karikatur. Ada seorang guru sedang mengajar dan menuliskan beberapa kalimat berbahasa Arab. "Pengetahuan Dasar", begitu tulisnya mengenai tema pelajaran yang sedang ia ajarkan. Di bawahnya, ia menuliskan kalimat "deklarasi negara" sambil mengucapkan kalimat demi kalimat menerangkan kedudukan kata per kata dalam ilmu struktur bahasa.
Perhatikan lagi gambar itu. Di hadapan guru, ada anak-anak usia balita dengan mulut mereka yang masih tersumpal dot, semen¬tara topi kepala mereka adalah sebuah kipa berlambang bintang segi lima. Ya, lambang Yahudi Israel yang sekaligus menjadi logo bendera Israel. Ini adalah sebuah karikatur yang menggam¬barkan bagaimana orang-orang Israel menanamkan keyakinan ideologi negara Israelnya yang berdiri di atas tanah rampasan Palestina, dalam kepala anak-anak mereka, sejak kecil. Bahkan sangat kecil.
Mungkin belum banyak orang yang memperhatikan bahwa perjuan¬gan melalui seni karikatur patut diperhitungkan. Di dunia Arab, ada pejuang seni seorang Muslimah yang memilih kartun dan karika¬tur sebagai bagian dari perjuangannya membela Islam dan kemanu¬siaan. Namanya Somayya Joha. Karya dan namanya, mungkin sudah tidak asing bagi warga negara-negara Arab, terlebih bagi penduduk Palestina. Joha memang banyak memfokuskan karyanya untuk menying¬kap penderitaan di Palestina, dan karyanya sudah banyak tersebar di berbagi media besar di Timur Tengah. Sejak Februari 2002, Omayya bekerja di harian El Haya El Jadida, disamping itu ia juga bekerja di tabloid Ar Risalah yang terbit pekanan sejak 1996. Ia juga menjadi freelance di harian Al Raya, Qatar. Salah satu karya Joha, adalah gambar yang menjadi ilustrasi awal tulisan ini.
Omayya Joha, muslimah kelahiran 2 Februari 1972, tetaplah sebagai sosok kartunis yang perannya tak bisa dianggap remeh dalam menyuarakan tragedi dunia Islam. Apa yang dituangkan Joha dalam kartun dan karikaturnya, tidak saja mewakili inspirasi atau suara hatinya sendiri, tapi juga mewakili apa yang ada dalam benak kaum Muslimin. Joha bahkan boleh dikatakan tokoh kartun paling berani dan kritis mengangkat tema-tema kezaliman yang dialami kaum Muslimin.
Salah satu peristiwa yang membuat namanya drastis populer di banyak warga Arab adalah lukisannya yang secara rutin menghiasi berbagai media massa terkait masalah Palestina. Tidak berlebihan pula bila ada ungkapan, "Andai tidak ada Palestina, Joha tidak akan terkenal seperti sekarang." Joha memang mampu mengangkat tema penderitaan dan kesedihan Palestina melalui gambar kartun. "Saya memilih tema Palestina, bukan saja karena Palestina merupa¬kan lokasi yang dekat secara lokasi dengan dunia Arab, tapi juga karena tema Palestina mempunyai dimensi internasional," ujarnya dalam sebuah wawancara. Tragedi intifadhah Palestina memang menjadi salah satu pencetus inspirasinya dalam menuangkan ide bagi Joha. Ada banyak kepedihan dan kesengsaraan yang begitu menyentuh nuraninya sebagai manusia, terlebih sebagai Muslimah. Tentang ini ia secara filosofis mengatakan, "Siapa saja yang merasa peduli dengan penderitaan, itu akan memunculkan ide bagin¬ya. Seorang yang bergelut dalam seni, sangat sensitif perasaannya dan mereka biasanya adalah orang yang bisa menyuarakan pera¬saannya itu. Tentang apa yang ia rasakan, tentang penderitaan bangsa dan negaranya dan sebagainya." Dan tentang kondisi Pales¬tina, Joha secara khusus mengatakan "Tragedi Palestina adalah luka besar yang selalu menganga setiap hari. Karena itulah saya menjadi orang yang paling dekat dengan penderitaan rakyat Pales¬tina."
Kedekatan Joha dengan Palestina, bukan hanya itu. Ia sendiri memang seorang berdarah Ghaza, Palestina. Omayya Joha memang merupakan bagian dari keluarga Palestina yang terungsikan pada saat Israel mencaplok Palestina di tahun 1948. Ia bersama ribuan Muslim Palestina terpaksa meninggalkan tanah air Palestina, lalu berhasil kembali lagi ke Palestina dan menetap di Ghaza sejak bulan Februari 1972, tepatnya di kampung Syujaiya. Di sekolah, sejak kecil, Omayya Joha sudah menjadi bintang terkenal yang pandai menggambar. Joha kecil tidak dewasa dengan seorang ayah, karena ayahnya adalah guru bahasa Inggris yang menghabiskan usianya bertahun-tahun di Emirat Arab untuk mencari nafkah. Suami Joha, yang bernama Rami Khadr Sa'd, gugur akibat tembakan Israel pada tanggal 1 Mei 2003. Suami Omayya, sebelum syahid, dia adalah anggota di Organisasi Mahasiswa Universitas Islam di Ghaza. Ia seorang aktifis dan mempunyai pengaruh cukup baik di masyrakat. Ia juga merupakan salah satu penndiri unit 103 di Batalyon Izzud¬din Al Qassam, sayap militer Hamas.
Meski demikian Joha juga banyak menuangkan aspirasi seninya secara sosial dalam lingkup internasional. "Karya saya tidak hanya terkait masalah politik. Saya menggambar di berbagai bi¬dang, sosial, ekonomi, olah raga, dalam lingkup intersiopnal. Tapi mungkin kebanyakan memang di wilayah politik. Joha pernah menggambarkan sebuah kartun yang mengkritik masalah pelarangan jilbab di Prancis. Lewat kartunnya, ia memprotes larangan terha¬dap hak kaum Muslimah untuk mengenakan pakaan Islamnya. "Saya sebagai aktifis seni juga memperhatikan berbagai peristiwa terkait agama dan negara di mana saja. Adalah hak saya untuk membela apa saja yang bisa saya lakukan untuk menolong agama ini," ujarnya
Kartun dan Kekuatan Politik
Ada ungkapan yang mengatakan, "Seni mampu melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh politik." Menurut Joha hal itu ada benarnya. Karena dalam banyak karyanya, ia memang terinspirasi dari kenyataan pahit yang dituangkan ke dalam gambar, dengan tujuan gambar-gambar itu bisa merubah keadaan, atau minimal چ
mempengaruhi perasaan orang yang melihatnya. Ia punya pengalaman menarik tentang hal ini. Saat ia menggelar pameran karyanya tentang kehidupan dunia Islam, seseorang datang dan bertanya, "Gambar anda bagus, tapi apa pengaruhnya setelah itu?" Jawaban Joha ketika itu hanya mengatakan, "Semua orang p unya peran yang harus ia lakukan. Karena itu yang saya lakukan adalah terkait dengan misi manusia di bumi ini. Bila mungkin memberi pengaruh positif itu akan tetap bagus, meskipun sedikit. Yang penting misi seorang seniman adalah mempengaruhi," tandasnya.
Kelangkaan tokoh seniman apalagi kartunis di dunia Islam memang menjadi keprihatinan sendiri. Boleh jadi, ini karena kurang pedulinya umat Islam terhadap strategi yang harus dilaku¬kan untuk membangun sebuah seni dan peradaban. Ironisnya, negara-negara Islam di Timur Tengah, justeru mampu mengalokasikan dana milyaran dolar untuk mengimpor film-film dan produk kartun asing dengan isinya yang bertolak belakang dengan tradisi Arab dan prinsip Islam. Di sisi lain, masyarakat juga lebih menyukai produk produk film kartun tersebut. Menurut Joha, selain faktor-faktor tadi, penyebabnya juga karena sedikitnya dukungan finan¬sial kepada aktifitas seni seperti yang dilakukannya. Dana besar negara Arab, menurutnya, banyak mengalir bukan untuk memproduk film kartun Islam karena dianggap kurang penting.

Johaatoon for Cartoon
"Mereka memalsukan sejarah, memiutarbalikkan fakta. Karenanya kita harus menjawab hal titu. Kita tidak mengatakan membenci yahudi karena kami tidak bersikap membenci satu agama. Kami membenci dan memerangi penjajah yang meramapas,yang mengusir jutaan orang dari rumah mereka. Dan karenanya, diperlukan agenda untuk menjawabnya," itu jawaban Joha saat ditanya kenapa ia begitu konsentrasi membuat produk film kartun. .Kini, Joha memang sudah memasuki dunia seni kartun yang lebih luas, dengan mulai membuat film. Produk film pertamanya, berjudul "Hikayat Miftah" digagas melalui kerjasama dengan Asosiasi Dokter Arab di Kairo, Mesir. Film kartun itu kemudian yang menjadi film serial anak-anak di Mesir. Awal ide membuat kartun, menurut Joha adalah karena dirinya khawatir terhadap ancaman bahaya yang dialami anak-anak akibat melihat film kartun asing yang isinya bertabra¬kan dengan nilai Islam. Melihat maraknya gempuran film kartun anak produk asing yang begitu merajai pasar, Joha tergerak "Produk film kartun itu kebanyakan tidak sesuai dengan tradisi keislaman, karena banyak gambar kekerasan, mengumbar aurat, perbauran yang negatif, kekerasan, sampai-sampai hal tersebut menjadi sesuatu yang lumrah di masyarakat Islam," ujar Joha.
Film ini dikeluarkan khusus membahas masalah hak imigran Palestina yang harus kembali, agar masalah mereka tetap hidup dan diingat oleh anak-anak Palestina. Ini juga untuk menjawab tantan¬gan upaya Israel yang ingin menghapus hal itu dari benak anak-anak dengan Yahudisasi sejarah. Film yang memakan waktu pembua¬tannya sekitar 6 bulan secara maraton ini bertujuan menanamkan dalam pikiran anak-anak Islam pemahaman cinta Palestina sebagai bagian dari kecintaan pada Masjid Al Aqsha, secara benar. "Mereka harus mengerti benar hakikat yang kini sedang dilakukan penjajah Israel dengan berbagai kezalimannya. Kami juga mendapatkan penja¬jah Israel menanamkan hal kebalikannya dalam benak anak-anak mereka, sejak mereka masih berusia balita bahkan, karena keben¬cian mereka kepada bangsa Arab dan Islam," ujar Joha yang mempun¬yai website gallery karyanya di omayya.com.
Joha pantas sangat peduli dengan nasib Palestina. Karena kondisi rakyat Palestina juga merupakan kondisi dirinya. "Saya sampai sekarang tidak boleh masuk Palestina. Itu terjadi sejak bekerja di harian Al Quds, dan saya ditekan untuk segera keluar meninggalkan pekerjaan saya karena media itu berada di bawah pantauan tentara Israel," kenang Joha. Ia melanjutkan, "Sekarang saya berada di Mesir, tapi saya tidak bisa memasuki wilayah Palestina, karena resionya adalah ditangkap dan mati. Nama saya termasuk dalam list orang yang dilarang masuk ke Palestina."
Beragam inspirasi yang ia tuangkan dalam kartun, menurut Joha, adalah senjata yang ia miliki. "Penjajah Israel tak kenal kasih sayang pada anak kecil dan orang tua. Mereka tidak membeda¬kan antara manusia politis, pejuang atau orang sipil biasa. Semuanya menjadi sasaran tembak senjata Israel. Apa masalahya bila ada seorang seni yang menekuni bidangnya untuk mengangkat penderitaan Palestina, menyingkap fakta, mengungkap pembantaian penjajah?" pungkas Joha.
M. Lili Nur Aulia