Minggu, 01 Agustus 2010

Mereka Yang Membantai Mabhouh

Selasa, 16/02/2010 14:06 WIB

KNRP - Kepolisian Emirat mengungkapkan 11 identitas tersangka dalam pembunuhan pemimpin Hamas Mahmoud Mabhouh . Bahkan Kepala Kepolisian Dubai, Dahi Khalfan Tamim tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan Israel dalam pembunuhan itu. Sementara pemimpin Hamas, Osama Hamdan, kembali menuduh Israel sebagai pihak yang berada di balik operasi keji itu.

Seperti dikutip Aljazeera, Selasa (16/2), Tamim mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Dubai bahwa kemungkinan para pemimpin negara-negara tertentu telah memberikan perintah kepada badan-badan intelijennya untuk membunuh komandan militer Hamas itu, dan ia juga tidak mengesampingkan jika Badan Intelijen Israel (Mossad) berada di belakang operasi itu serta juga adanya keterlibatan pihak-pihak lain.
Dalam jumpa pers itu, Tamim memberikan rincian operasi yang sangat rapi itu yang berlangsung dalam 20 menit sesuai dengan informasi dari pergerakan Mabhouh dari saat tiba di bandara Dubai sampai ke hotel tempatnya menginap.

Kepolisian Dubai lalu menjelaskan bahwa daftar terdakwa itu adalah Evan Dennings, Gail Folliard, Kevin Daveron (ketiganya warga Negara Irlandia), James Leonard Clarke, Jonathan Louis Graham, Paul John Keeley, Michael Lawrence Barney, Melvyn Adam Mildiner, Stephen Daniel Hodes (warga Negara Ingris), Michael Bodenheimer (warga Negara Jerman) dan Paul Peter Elvinger (Perancis).
 

Komandan Umum Kepolisian Dubai itu juga memperlihatkan video yang menunjukkan kedatangan tim pembunuh melalui rute penerbangan yang berbeda-beda, yakni ketika mereka menginap di hotel yang berbeda sehari sebelum kedatangan, lalu mereka berpindah persis di depan kamar yang dihuni oleh Mabhouh.
 

Tamim menambahkan, para pelaku pembunuhan itu terpaksa melakukan berbagai aksi penyamaran seperti penggunaan wig, selendang dan mengenakan berbagai mode pakaian yang formal dan olahraga untuk menyembunyikan fisik asli mereka.
 

Sementara kamera keamanan di Bandara Dubai berhasil melacak salah satu anggota tim yang tengah memonitor Mabhouh dari sejak kedatangannya di bandara, dimana itu kian menguatkan bagaimana tim itu tahu betul ihwal tanggal kedatangan Mabhouh sebelum akhirnya Mabhouh langsung meluncur ke Al Bustan Rotana Hotel, sementara ia diikuti oleh dua tersangka yang keduanya bersama-sama Mabhouh naik lift yang sama di hotel, kemudian keduanya juga turun di lantai yang sama dengan Mabhouh sembari salah satunya memastikan kamar tempat Mabhouh menginap.

Rekaman video hotel juga memperlihatkan keberadaan dua dari tim pembunuh pada pukul delapan malam pada tanggal 19 Januari, yaitu hari dari pelaksanaan operasi itu, dimana keduanya tampak tengah melakukan pengawasan dan pencegatan setelah seorang karyawan kebersihan hotel meninggalkan kamar Mabhouh sebagai upaya untuk memfasilitasi tugas pelaksanaan operasi tim pembunuh. Terlihat di antara para anggota tim itu seorang teknisi yang diduga menggunakan alat digital untuk menjinakkan kunci kamar Mabhouh sebelum kedatangannya.

Kamera hotel itu menjelaskan bahwa Mabhouh tiba di kamarnya pukul 8.25 malam di mana kemungkinan besar pembunuhan itu terjadi dalam jangka waktu tidak lebih dari 10 menit sejak Mabhouh masuk ke kamarnya.

Penyelidikan menunjukkan bahwa para pelaku itu sangat rapih untuk membereskan semua isi kamar Mabhouh agar terlihat normal, untuk menghilangkan semua petunjuk yang mungkin dapat menunjukkan terjadinya perlawanan dari korban dan untuk membuat bingung pihak keamanan serta untuk pengalihan perhatian dari segala kecurigaan pidana di balik kematian Mabhouh.

Semua pelaku pembunuhan secara cepat langsung melarikan diri dari hotel tak lama setelah kejahatan berlangsung, dan mereka segera pergi ke Bandara Dubai serta menaiki penerbangan dengan tujuan yang berbeda-beda dari kota-kota Eropa dan Asia.
 

Di lain pihak, Komandan Umum Kepolisian Dubai menyangkal jika kedatangan Mabhouh di Emirat untuk mengatur kesepakatan guna membeli senjata dari Iran. Ia mengatakan bahwa korban menggunakan paspor dengan menunjukkan nama keluarganya, dan bahwa pihak berwenang UEA tidak tahu saat kedatangannya.

Tamim mengisyaratkan bahwa surat perintah penangkapan untuk para tersangka pembunuhan itu akan segara dikeluarkan. Tamim juga mengatakan bahwa dua warga Palestina, salah satunya mantan perwira tinggi di Otoritas Palestina, telah ditangkap atas tuduhan pembunuhan itu. Pejabat kepolisian Emirat itu menegaskan bahwa Mabhouh dibunuh dengan cara dicekik, tidak diracun, seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Sementara Osama Hamdan, perwakilan Hamas di Lebanon mengatakan bahwa para tersangka yang berpaspor asli Eropa itu tidak berarti apa-apa, karena Israel dapat saja memalsukan atau memperoleh dokumen tersebut melalui perjanjian keamanan dengan negara yang bersangkutan. Hamdan menunjukkan bahwa unsur-unsur Mossad yang pernah berusaha membunuh Khaled Mashaal, Kepala Biro Politik Hamas pada tahun 1997 di Amman ibu kota Yordania, ternyata membawa paspor Kanada.

Hamdan juga kembali menegaskan dalam sebuah wawancara agar Hamas dilibatkan dalam penyelidikan yang dilakukan oleh penguasa Dubai, namun ia menyangkal bahwa hal ini adalah campur tangan dalam urusan keamanan Emirat, dan ia menekankan keinginan Hamas untuk menjaga keamanan wilayah Arab.

Di lain pihak, Hamdan juga mengingatkan adanya dua warga Palestina yang terlibat dalam operasi keji itu harus ditindaklanjuti dengan serius, tetapi ini tidak boleh mengalihkan perhatian dari fakta bahwa Mossad Israel adalah pelakunya sebenarnya. Ia mengatakan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Untuk diketahui, Israel sendiri secara resmi memilih sikap diam dalam pembunuhan ini. Tetapi pers Israel menyambut operasi itu dan Yerusalem Post menggambarkannya sebagai "pukulan lain terhadap poros kejahatan."(milyas/aljzr)

0 Komentar

Arsip