Senin, 29/03/2010 11:25 WIB
KNRP - Hampir semua pengamat masalah Palestina sepakat, tahun 2010 merupakan tahun penting yang dinanti-nanti oleh penjajah Israel. Di tahun itulah, Israel yakin dapat mewujudkan keinginannya; menjadikan Al Quds (Jerussalem) sebagai ibukota Yahudi yang seluruhnya mencerminkan Yahudi, baik penduduk, agama, dan peradabannya.
Sejak awal tahun 2010, terasa sekali berbagai indikator yang muncul terkait rencana Yahudisasi Al Quds. Lihatlah, intensitas aksi serangan Yahudi radikal ke Masjid Al Aqsha yang berulangkali terjadi hingga tentara Israel berani melontarkan tembakan gas air mata dan peluru karet kea rah pintu ruang utama Masjid yang disebut Masjid Al Qibali. Hingga peristiwa menghebohkan yang terjadi, peresmian Sinagog terbesar bernama Kharab.
Sebuah kajian dari Al Quds International Institution menyebut Zionis memang ingin aksi lebih konkret di tahun 2010 ini. Terlebih dengan latar belakang pengalaman buruk yang dialami Zionis Israel paska kegagalan perang atas Libanon, setelah keterpurukan luar biasa karena tak mampu mengalahkan Hamas di Gaza, juga kegagalan melakukan Yahudisasi atas Al Quds sepanjang 43 tahun. Terjadi pula beberapa perubahan paradigma komunitas Yahudi, dari yang menganggap kesucian sejarah Yahudi ada di area Masjid Al dan menyebutnya sebagai lokasi sakral bagi Yahudi. Dan perubahan paradigma sebagian Yahudi yang menganggap Kuil III tak perlu dibangun di atas tanah Masjid Al Aqsha.
Rangkaian peristiwa itu mendorong Zionis Israel berkeras untuk bisa mewujudkan target kejahatannya secara lebih terukur. Dan itulah yang dirasakan langsung oleh Al Quds sejak awal tahun 2009, bersamaan dengan aksi gila militer Israel atas Gaza. Tahun 2009 menjadi tahun derita paling berat bagi umat Islam, Masjid Al Aqsha dan Al Quds, mengingat terlampau seringnya tentara Israel menyerang Masjid Al Aqsha dan terlampau banyaknya penduduk Al Quds yang diusir dan dikuasai Israel tanah serta rumah mereka.
Mengenal Bahaya Sinagog Kharab
Sinagog Kharab adalah bangunan sinagog terbesar milik Israel yang berjarak beberapa puluh meter saja dari Masjid Al Aqsha. Kisah tentang sinagog ini sesungguhnya sudah bermula sejak tahun 2001. Kala itu, Zionis Israel menetapkan pembangunannya dengan asumsi biaya tak kurang dari 12 juta dollar, yang sudah terkumpul hasil subsidi Israel dan berbagai konglomerat Yahudi di seluruh dunia.
Pembangunannya sendiri baru dimulai di tahun 2006, usai digambarkan peta lokasi dan kontruksi bangunannya secara utuh berdasarkan peta sebuah sinagog yang hancur di tahun 1948. Israel, melalui keterangan resmi mereka, menjelaskan misi pengelolaan Sinagog Kharab melalui sebuah lembaga bernama “Dana Budaya Tembok Ratapan”.
Sinagog yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Al Umari, di atas tanah wakaf yang diberikan penduduk Palestina itu, memiliki tinggi bangunan 24 meter dan kubahnya memiliki 12 jendela. Dengan kubah warna putih, keberadaan sinagog sangat mencolok bila dilihat dari lokasi Masjid Al Aqsha. Apalagi bila diketahui jaraknya memang dekat dengan tembok sisi barat Masjid Al Aqsha, yang di sisinya adalah Masjid Al Umari, sebuah masjid bersejarah milik Umat Islam yang ditutup oleh Zionis Israel. Kontruksi bangunan kubah Sinagog yang besar dan berwarna putih juga ditujukan untuk kian menyamarkan simbol Masjid Al Aqsha dan Masjid Qubbatu Shakhrah (kubah emas) yang ada di Al Quds.
Tiga bulan sebelum akhirnya diresmikan pada 16 Maret 2010, berbagai media massa Zionis Israel sudah gencar mengangkat informasi peresmian Sinagog Kharab ini. Media-media massa Israel telah menyebutkan bahwa proyek pembangunan Sinagog Kharab itu akan rampung di pertengahan bulan Maret 2010. Dan, sesuai banyak artikel yang dimuat di harian Haaretz berbahasa Ibrani, peresmian Sinagog Kharab adalah langkah fenomenal Yahudi sebagai tanda mereka berhasil mengukuhkan Al Quds sebagai ibukota Israel, keberhasilan penting Yahudisasi Al Quds, dan Sinagog itu akan menjadi simbol penting bagi ritual Yahudi di Al Quds. Seiring dengan informasi peresmian Sinagog Kharab, atau sejak awal tahun 2010, beragam kelompok ortodoks Yahudi pun melakukan sejumlah aksi “pemanasan” dengan beberapa kali menggelar ritual di halaman masjid, meski harus berhadapan dengan pemuda Palestina yang mencoba menghalangi mereka. Tapi aksi-aksi itu bisa dikatakan berhasil, karena didukung oleh aparat polisi dan tentara Israel.
Sejarah Kharab menurut Zionisme
Tentu saja, riwayat sejarah versi Yahudi, hanyalah berdasarkan cerita atau klaim dari para pimpinan mereka di berbagai tempat. Mereka menanamkan keyakinan bahwa orang Yahudi adalah pemilik dan penguasa wilayah Al Quds, yang kini dimiliki oleh umat Islam.
Kisah Sinagog Kharab berdasarkan tokoh agama Yahudi di abad ke delapan belas. Saat itu, konon sekelompok Yahudi yang jumlahnya antara 300 hingga 1000 orang asal Belanda datang ke Al Quds. Mereka menghimpun dana untuk memberi suap ke sejumlah pegawai Daulah Utsmaniyah untuk mendapatkan izin membangun sebuah sinagog bagi mereka. Tapi, mereka gagal menghimpun uang untuk mengumpulkan uang untuk area tanah yang harusnya mereka beli. Karenanya, sebuah sinagog yang sudah dibangunpun menjadi tidak sempurna dan ditinggalkan begitu saja karena para pemilik tanah akhirnya meminta mereka mengembalikan tanah itu. Akhirnya sinagog itu ditinggalkan begitu saja sampai hancur (kharab). Selama 89 tahun berikutnya, sinagog itu tetap rusak karena tak ada yang mengurus. Itulah sebabnya, sinagog dinamakan Kharab yang artinya kehancuran.
Pada tahun 1948, dalam versi sejarah Israel pasukan Jordania pimpinan komandan Abdullah At Tall meminta bantuan Palang Merah Internasional untuk mengeluarkan semua orang yang bersembunyi di dalam Sinagog. Zionis memang menjadikan sinagog itu sebagai benteng pertahanan mereka untuk memerangi pasukan Jordania. Komandan Abdullah At Tall memberi waktu 12 jam agar mereka keluar. Karena negosiasi itu diabaikan, akhirnya pasukanpun merlakukan serangan ke dalam sinagog.
Ada lagi versi lain yang menguatkan bahwa Sinagog ini harus berdiri dan memiliki nilai ideologis bagi Yahudi. Konon jauh sebelum konflik militer di Palestina, pernah ada seorang Hakhom (tokoh agama Yahudi) yang hidup di tahun 1750 dan menuliskan ungkapan, bahwa hari pembangunan kembali Sinagog Kharab di lokasi, adalah hari pembangunan kembali Kuil III atau Kuil Solomon yang diyakini ada di atas lokasi Masjid Al Aqsha.
Keyakinan itulah yang kini berkembang kuat di kalangan orthodoks Yahudi. Bahwa momentum peresmian Sinagog Kharab di Al Quds (Jerussalem) bertepatan dengan hari yang diyakini sebagai saat pembangunan Kuil Solomon. Di antara tujuan rahasia yang diinginkan Israel, melalui pembangunan dan peresmian Sinagog Kharab , adalah untuk mengikat Al Quds dengan sejarah Yahudi yang konon dahulu memiliki Al Quds. Itu juga yang disampaikan pakar arkeologi Israel Maer ben David, tokoh Israel yang menolak klaim bahwa wilayah itu merupakan wilayah sejarah Yahudi, sebagaimana disuarakan resmi penjajah Israel.
Al Aqsha International Institution menyebut bahwa dinamakan Sinagog Kharab adalah sebagai langkah pertama Yahudisasi yang akan mengaitkan rencananya dengan pembangunan Kuil III dengan dukungan kekuasaan penjajah Israel dan lokasi pemukiman penduduk yang kini sudah mengepung Masjid Al Aqsha. Termasuk langkah Israel yang seiring dengan Sinagog ini, adalah menghilangkan berbagai simbol historis Islam di Al Quds, dengan menjadikan Masjid Al Ibrahimi di Al Khalil dan Masjid Bilal bin Rabah di Beitlehem sebagai wilayah cagar budaya Israel. Seperti itulah yang tercatat dalam berbagai sumber sejarah Yahudi yang juga telah dipublikasikan Israel tiga pekan sebelum peresmian Sinagog Kharab.
Setelah peresmian Sinagog Kharab yang merupakan simbol Yahudi terbesar dan terpenting di Kota Lama, pihak Zionis Israel direncanakan akan mulai membangun bangunan tambahan lain yang bisa memperkokoh esksistensi agama Yahudi di kota tersebut. Salah satu yang sudah santer adalah pembangunan sinagog ‘Quds Nur” yang sudah dibicarakan dan direncanakan tahun 2008 lalu. Kalau rencana ini direalisasikan, maka tempatnya adalah di atas kantor pengadilan Islam yang memang menempel di pagar sebelah Barat Masjid AlAqsha. Rencana ini, sekali lagi, akan mengalami puncaknya dengan pembangunan Kuil III yang sudah diimpi-impikan Israel, di atas area berdirinya Masjid Al Aqsha.
(M. Lili Nur Aulia/KNRP)