Minggu, 01 Agustus 2010

Wawancara Direktur Pertahanan Sipil Gaza

Yusuf Zehar : "Pertahanan Sipil Cegah Ghaza dari Kehancuran Total"

Sabtu, 08/08/2009 13:57 WIB

KNRP - Bagaimanakah Jalur Ghaza bisa bertahan dari serangan brutal Israel beberapa waktu lalu? Kolonel Yusuf Zehar, Direktur Pertahanan Sipil di Jalur Ghaza, menegaskan, pertahanan sipil dan pokja-pokjanya adalah kuncinya. Mereka sangat sigap untuk memberikan bantuan darurat kepada rakyat Palestina.

    Lebih jauh Zehar menjelaskan, Lembaga Pertahanan Sipil (LPS) mempunyai peran sangat besar saat Ghaza dianeksasi secara kejam oleh Zionis Israel. Kendati demikian, Zehar mengakui bahwa sejumlah kru LPS harus tercatat sebagai syuhada.
Untuk lebih jelas apa dan bagaimana konsep pertahanan sipil itu dikembangkan di Ghaza, berikut ini wawancara harian El-Ra’yu El-Hukumiyah dengan Zehar seperti dilansir oleh situs paltimes:

Bisakah Anda jelaskan urgensi LPS? Dan bagaimana pula LPS bisa melalui saat-saat sulit saat Ghaza diserang?
    Kami tegaskan bahwa kru di LPS selalu siap siaga berkhidmah untuk bangsa Palestina dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok mereka. LPS tidak dikenal karena manajemen, divisi-divisi dan bagian-bagiannya. Ia hanya dikenal karena peran yang dimainkannya. Ia juga diketahui sebagai kelompok yang terus menjalankan bela warga negara di manapun, mengupayakan pencegahan terjadinya bencana-bencana, dari sana peran LPS merupakan peran kemanusiaan dan kedaruratan dan setiap negara pasti membutuhkan (LPS) itu.
    Kami sebagai lembaga ketahanan sipil di Palestina, kami punya kekhususan, di mana LPS didera krisis dalam hal peluang dan peralatan yang ada, lalu krisis itu semakin menjadi-jadi setelah adanya isolasi yang menzalimi warga Palestina di Jalur Ghaza dan setelah serangan kejam yang dilakukan penjajah Israel terhadap semua sisi kehidupan Palestina. Terkait itu, justru yang pertama kali jadi sasaran tembak adalah kantor-kantor dan peralatan-peralatan LPS. Tapi karena karunia Allah, LPS mampu memberikan bantuan kepada masyarakat Palestina dan kepada mereka yang tinggal di bumi ini secara profesional dan semua juga melihat bahwa (layanan) LPS jauh dari dugaan.

Bisa Anda jelaskan hambatan utama yang berdampak terhadap LPS? Dan bagaimana terkait syuhada LPS?
    Krisis yang telah menyapu LPS dan masih terus berlangsung antara lain yang berkaitan dengan fenomena-fenomena alam seperti hujan deras dan kebakaran. Di antaranya juga yang diakibatkan ulah manusia seperti serangan yang dilakukan penjajah Israel dimana LPS sangat terbebani secara finansial dan telah sangat menghambat kerja serta menjadikan tekanan kuat dalam berkerja.
    Kerja LPS yang kelihatan sangat kentara adalah ketika Perang Al-Furqan (pendudukan Israel atas Ghaza-red), dimana itu diibaratkan sebagai pertempuran heroik yang dilakukan awak-awak LPS dimana mereka berhasil melakukan 1.300 aksi selama 22 hari sejak aneksasi bengis itu. Aksi-aksi itu antara lain penyelamatan, pemadaman (api) dan pertolongan pertama. Saat itu juga ada beberapa awak LPS yang syahid dan terluka, dimana jumlah yang syahid 13 dan yang terluka 31. Sejumlah peralatan LPS juga hancur.
    Di antara hambatan lainnya lagi adalah adanya kekurangan peralatan LPS di antaranya mobil-mobil yang biasa dipakai kerja oleh LPS yang sudah tua yaitu keluaran tahun 1988 dan 1989, dan itu yang menjadikan tidak sinkron saat harus berkeja dalam kondisi yang sangat sulit. Namun kami selalu berupaya untuk sampai ke tempat kejadian secepatnya dengan menempuh jalan yang paling aman. Yang penting bagaimana kami dapat sampai dan dapat menyelamatkan hidup warga dan para pekerja. Saya beritahukan pula bahwa LPS telah mencatat rekor tersendiri dalam kecepatannya untuk sampai ke lokasi kejadian dan dalam menangani setiap kondisi sesuai yang dibutuhkan.

Bagaimana Anda ceritakan awak-awak LPS saat mereka berkeja? Dan bagiamana peran wawasan keamanan dan keselamatan yang gencar akhir-akhir ini?
    Awak LPS sudah banyak memperlihatklan aksi-aksi heroik kemanusiaan. Mereka adalah penjaga terbaik dan terpercaya terhadap aset-aset, rumah-rumah dan kehormatan ummat Islam di Ghaza kami yang tercinta. Kami sangat berterima kasih kepada Departemen Dalam Negeri yang terus berupaya mengembangkan wawasan keamanan dan keselamatan bagi warga-warga kami.
    Adapun yang berkaitan dengan peran (LPS) itu, yaitu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan pertahanan sipil untuk para pegawai di Depdagri, dimana dalam Perang Al-Furqan Depdagri telah mempersembahkan banyak syuhada, termasuk di antara mereka menterinya Asy-SYahid Said Shiyam dimana beliau bersama rekan-rekannya telah memberikan contoh yang luar biasa dalam mempraktekkan bagaimana membela warga Palestina di setiap medan.
    Kami menargetkan untuk memasukkan wawasan keamanan dan keselamatan ke setiap rumah warga Palestina setelah kami masukkan wawasan pertahanan sipil ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Saat ini di hadapan kami ada proyek pelatihan yang menargetkan semua warga kami yaitu bagaimana berinteraksi dengan agenda (keamanan dan keselamatan) ini. Seharusnya, setiap warga Palestina punya wawasan bagaimana menangani pemadaman (api), penyelamatan dan pertolongan pertama.
    Setelah pertempuran Al-Furqan jumlah mereka yang sudah lulus dalam pelatihan-pelatihan di regional pertahanan sipil mencapai 3.500 orang. Kami sedang berupaya untuk memasukkan (wawasan) keamanan dan keselamatan ke setiap rumah melalui himbauan-himbauan tertulis atau audio atau melalu televisi. Demikian pula melalui pelatihan-pelatihan praktek lapangan.

Bisakah Anda menyebutkan hasil kerja terpenting dimana pertahanan sipil berperan penting di dalamnya?
   
Mungkin hasil dari kegiatan-kegiatan dan aktifitas regional pertahanan sipil itu bahwa kami pernah melihat seorang wanita Palestina yang sudah bisa menangani untuk menyelamatkan rumahnya secara profesional tanpa dihantui rasa takut, panik atau lari. Wanita itu sudah mendapatkan himbauan-himbauan dan arahan-arahan terkait wawasan keselamatan public. Ia langsung masuk ke lokasi kebakaran dan memadamkannya, baik itu di lokasi-lokasi tempat memasak atau tabung-tabung gas yang ada di rumah. Itu semua dapat mengurangi bencana yang mungkin terjadi dikarenakan ketidaktahuan atas wawasan keselamatan dan keamanan.(milyas/paltimes)
 

0 Komentar

Arsip