Minggu, 01 Agustus 2010

Idul Adha di jalur Gaza

"Rumah Kami Hancur, Tak Ada lagi Hewan Kurban"

Sabtu, 21/11/2009 12:15 WIB

KNRP - Sementara dunia Islam akan segera merayakan Idul Adha dengan penuh kesumringahan dan keceriaan, penduduk yang tinggal di Jalur Gaza terpaksa harus melakoni hidup penuh derita akibat blokade oleh orang-orang zalim. Blokade itu menghalangi masuknya kebutuhan pokok melalui penyeberangan.
 

Saat ini, seperti dilaporkan situs paltimes, lebih dari 70 persen warga Gaza hidup dalam kemiskinan. Tak jarang seorang kepala keluarga harus menghidupi sembilan anggota keluarga, sementara kondisi ekonomi sangat sulit, pengangguran meruyak tak terkendali, itu semua disebabkan oleh penjajah Zionis yang menerapkan isolasi atas Gaza. Akibatnya, roda kehidupan terganggu, bahkan terhenti lantaran minimnya kebutuhan pokok, dan itu memicu tingginya harga kebutuhan pokok menjadi berlipat-lipat.
 

Sebelum blokade diterapkan, banyak di antara warga Gaza yang berkurban. Namun Idul Adha mendatang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Blokade itu telah mendiaspora anggota keluarga mereka, yang sejatinya justru pada Idul Adha mereka saling bersua.
Lebih buruk lagi, aneksasi brutal Israel atas Gaza yang menewaskan hampir 1.450 itu membuat banyak warga Gaza trauma. Pasalnya, di saat Idul Adha itulah mereka yang tewas, hilang atau terkapar kesakitan kembali terkenang. Walhasil, rasa pilu yang mendalam kembali terkoyak saat lebaran tiba.
 

Orang-orang di Gaza menyambut lebaran dengan linangan air mata. Banyak di antara mereka meratapi puing-puing dan tumpukan tanah sebagai bentuk ungkapan duka atas mereka yang diduga lenyap di bawah reruntuhan dan tumpukan tanah itu.
 

Mohammed, 23 tahun, seorang mahasiswa di Fakultas Pertanian di Universitas Al-Azhar di Gaza mengatakan, “Kami menyambut lebaran nanti penuh dengan sangat kesedihan terhadap teman-teman dan saudara-saudaraku yang menjadi syahid dalam perang tahun lalu.”
 

Dia lalu menambahkan, “Adapun terkait kurban, kami tidak akan berkurban tahun ini, bagaimana kami berkurban sementara kami tidak punya uang, rumah-rumah kami mengalami rusak berat akibat perang, bagi kami, situasi ekonomi sangat memburuk.”
 

Warga Gaza yang lain, Iyad, 21 tahun, mahasiswa di Fakultas Pendidikan di Universitas Al-Aqsa mengatakan, “Saya tidak yakin bahwa kami akan berkurban tahun ini. Kami sebelumnya biasa berkurban setiap tahun. Ayah saya bekerja di bidang konstruksi, tapi dengan dimulainya blokade sejak 4 tahun yang lalu, kami tidak lagi berkurban di Idul Adha, karena pekerjaan konstruksi sejak awal blockade berhenti, dan itu karena penjajah mencegah masuknya bahan bangunan ke Jalur Gaza.”
 

Sementara itu Jamal, 20 tahun, seorang mahasiswa Fakultas Pendidikan di Universitas Al Azhar di Gaza mengatakan, “Kami banyak merasakan penderitaan akibat perang itu, tetapi tidak mungkin meninggalkan satu tahun pun tanpa kami berkurban. Ayah saya telah melakukan penghematan sejak beberpa bulan yang untuk persiapan lebaran ini, dan kami memohon kepada Allah agar menerima kurban kami ini.”
 

Tanggaan lain datang dari Eyad, 13 tahun, seorang siswa di sekolah menengah. “Kami setiap tahun kita berkurban dengan seekor domba, atau ayah dengan paman-paman saya bersama-sama membeli seekor sapi, lalu sapi itu dibagikan antara ayah dan paman-paman saya,” ujar Eyad mengenang.
 

Lalu Eyad mengungkapkan kepedihannya. “Adapun lebaran kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Bagaimana kita berkurban pada lebaran kali ini sementara dua saudara laki-laki saya telah meninggal akibat perang? Belum lagi penjajah meluluhlantakkan rumah kami,” imbuh dia.
 

Tak jauh berbeda dengan Eyad, Naji (27 tahun) menjelaskan bahwa dirinya dulu sangat berkecukupan, punya rumah yang indah, dan punya penghasilan besar yang menjadikannya hidup secara terhormat, sehingga selalu dapat berkurban setiap Idul Adha.
 

"Tetapi setelah penjajah itu menghancurkan rumah kami, kami harus membayar dalam jumlah yang besar kepada pemiliki rumah yang rumahnya kami sewa, akibatnya situasi menjadi sulit,” keluh dia.
 

Meski pelbagai kesulitan mendera, Jalur Gaza tetap tegar menjaga kehormatan dan martabatnya. Tapi, entah sampai kapan kepedihan Idul Adha itu akan berakhir.(milyas/paltimes)

 

0 Komentar

Arsip