Senin, 15/02/2010 17:20 WIB
KNRP - Pengepungan Israel yang dikenakan beberapa tahun lalu atas Jalur Gaza itu telah mendorong warga Palestina untuk mencari cara baru guna mengatasi pahitnya kehidupan, di samping juga akibat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang tinggi dan di satu sisi adanya kebutuhan mendesak untuk bahan material yang tidak dapat dibawa melalui penyeberangan, semua itu mengakibatkan profesi mengumpulkan kerikil menjadi fenomena yang menyeruak.
Mariam Abou Sahloul (70 tahun) kelihatan sangat letih saat menggali pasir di sebelah barat di Khan Younis, selatan Gaza. Ia bekerja untuk mendapatkan beberapa karung kerikil untuk dijualnya, sembari berharap agar dapat memberikan sedikit makanan untuk anak-anak dan cucu-cucunya yang terus mencari pekerjaan tanpa pernah mendapatkannya.
"Harga kerikil selama beberapa hari naik. Saya mencoba untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dalam berbagai ukuran, mudah-mudahan saja saya kembali ke rumah dengan sedikit uang untuk menyediakan makanan kami," ujar wanita tua kepada Aljazeera, Senin (15/2).
Saat menggali tanah dengan kapak kecilnya itu, wanita renta itu menambahkan, "Kondisi ini tidak terbatas pada saya, anak-anak saya juga sampai bersama saya ke tempat yang sama dan mencari kerikil, lantaran duduk di rumah saja tidak akan membawa kita kepada makanan dan pakaian."
Proses pengumpulan kerikil ini melalui beberapa tahapan, dimulai dengan menggali tanah untuk kedalaman beberapa meter sampai mereka mencapai tanah berkerikil dengan alat kapak, dan kemudian kerikil dipisahkan dari pasir dengan menggunakan saringan, terakhir kerikil itu dikelompokkan menurut ukuran dan ditempatkan di kantong untuk dikirim ke penyalur bahan bangunan .
Mohammed Abu Radwan (20 tahun) berupaya untuk mencari sedikit uang untuk biaya kuliahnya melalui pengumpulan kerikil itu, agar dirinya tidak putus kuliah di Al-Azhar University di Gaza.
Dia mengatakan, jumlah orang yang mengumpulkan kerikil itu dari hari ke hari terus meningkat, dan tampaknya itu satu-satunya profesi yang ada saat ini. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan dan kemelaratan merupakan pendorong utama atas pilihan pengumpulan kerikil ini.
Dia menambahkan, kerja pengumpul kerikil ini merupakan upaya lain untuk memecahkan pengepungan atas Gaza, karena kerja itu menyediakan sumber pendapatan sekaligus menyediakan kerikil yang dibutuhkan oleh para pemilik rumah untuk pembangunan rumah mereka yang hancur.
Sementara Muhammad Abu Gaoud, pemilik perusahaan material mengatakan bahwa dirinya membeli dalam jumlah besar dari kerikil-kerikil itu yang diambil dari tanah, lalu kerikil itu dibersihkan dan ditempatkan dalam karung khusus sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Dia mengatakan bahwa selama periode baru-baru ini telah terjadi peningkatan permintaan atas kerikil itu karena kelangkaan semen dalam jumlah besar.(milyas/aljzr)