Kamis, 12/11/2009 09:49 WIB
KNRP – Adalah KTT Tiga Pihak antara mendiang Presiden Yasser Arafat, Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan Presiden Bill Clinton di Camp David di paruh kedua pada bulan Juli 2000 sebagai alasan utama di balik pembunuhan Arafat. Demikian hasil analisa dari sejumlah pengamat seperti dikutip paltoday, Rabu (11/11).
KTT itu sendiri digelar antara pihak-pihak yang disebutkan di atas untuk membicarakan isu-isu yang menonjol seperti Yerusalem, permukiman dan pengungsi, dimana setelah sepekan berlalu akhirnya KTT itu menemui kegagalan dalam mencapai solusi untuk masalah-masalah yang telah dibahas itu.
Setelah pembicaraan Camp David dan Taba, mulailah lingkaran-lingkaran di AS, pemerintah Israel dan beberapa politisi Israel mengatakan "Yasser Arafat tidak lagi signifikan. Tak ada gunanya untuk berunding dengan dia."
Setelah itu, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, yang memimpin pemerintah Israel kemudian, yang punya permusuhan pahit dengan Presiden Yasser Arafat, menuduh Arafat adalah di balik semua operasi mati syahid yang terjadi di wilayah-wilayah yang diduduki di Palestina 48, meskipun berulang Arafat mengutuk operasi-operasi tersebut.
Dalam suasana seperti itu, israel mencekal Arafat untuk meninggalkan Ramallah sehingga ia tidak dapat menghadiri KTT Arab di Beirut pada 26 Maret tahun 2002, lantaran Arafat cemas tidak boleh kembali lagi jika meninggalkan wilayah Palestina, dan pada 29 Maret di tahun yang sama, pasukan Israel mengepungnya di dalam markasnya bersama para pengiringnya, dimana selama pengepungan terjadilah pertempuran di mana tentara Israel menyerbu markas besar Arafat, peluru berdesingan di mana-mana sementara Presiden Yasser Arafat tetap bertahan di markasnya untuk mempertahankan sikap yang telah diputuskannya.
Sebagaimana juga Amerika dan Israel berupaya untuk menyingkirkan Presiden Yasser Arafat dari kekuasaan, dan menjauhkannya dari markasnya karena Arafat dinilai bertanggung jawab atas situasi di wilayah Palestina yang terus mencemaskan .
Pada 24 Mei 2002, Presiden George W. Bush meminta pembentukan kepemimpinan Palestina yang baru, dan karena tekanan internasional dan tersumbatnya wacana politik, Arafat terpaksa melepaskan sebagian kekuasaannya, dan akhirnya Mahmoud Abbas ditunjuk sebagai kepala pemerintahan Otoritas, tetapi usai Abbas mengambil pos itu, Ahmed Qurei pun mengundurkan diri.
Lalu, kehidupan Presiden Arafat pun berjalan pada situasi seperti itu sampai pada tanggal 12 Oktober 2004 ia merasa kesehatannya semakin menurun, hingga akhirnya ia wafat pada tanggal 11 November di tahun yang sama.
Rakyat Palestina menuding Israel berada di belakang menurunya kesehatan Arafat, terutama setelah Israel melakukan pengepungan terhadap Arafat di markasnya di Ramallah. Tetapi kebingungan yang membuat pusing warga Palestina adalah, bagaimana Presiden Arafat terbunuh? Apakah ia terbunuh karena diracun atau akibat dimasukkan ke dalam tubuhnya zat yang tidak diketahui yang kemudian menyebabkan kematiannya?
Patut dicatat, istri Presiden Arafat, Suha Arafat, adalah satu-satunya pihak yang berwenang menurut hukum Perancis untuk mengungkapkan informasi medis yang diterima dari rumah sakit Perancis, dan susahnya lagi, Suha masih menolak untuk memberikan informasi kepada pihak manapun terkait subjek ini.(milyas/paltoday)