Rabu, 08 September 2010

Menanti 2.500 Rumah Bergerak dari Mesir

Selasa, 30/03/2010 00:12 WIB

KNRP - Pemerintah Mesir pada prinsipnya telah menyetujui untuk mengirimkan 2.500 rumah bergerak bagi Jalur Gaza, sebagai donasi dari Federasi Dokter Arab untuk keluarga Gaza yang rumah-rumah mereka itu diluluhlantakkan oleh pencaplok Israel sejak lebih dari satu tahun yang lalu.

Namun, para pejabat dan warga Palestina meragukan akan keberhasilan kapasitas rumah-rumah bergerak ini sebagai tempat penampungan keluarga Palestina yang terlantar itu, hal itu lantaran sebagian besar keluarga Palestina terdiri dari banyak anggota keluarga. Oleh sebab itu, ketimbang mengandalkan rumah-rumah bergerak itu, para pejabat dan rakyat Gaza malah meminta Mesir untuk membuka penyeberangan Rafah guna masuknya bahan bangunan sehingga para pemilik rumah yang hancur dapat kembali membangun rumah-rumah mereka.

Namun, Direktur Kantor Federasi Dokter Arab di Gaza, Munir Al-Bursh, menjamin adanya persetujuan awal dari pemerintah Mesir untuk mengirimkan 2.500 rumah bergerak itu ke Jalur Gaza, dimana masing-masing rumah itu terdiri dari dua kamar tidur kecil dan tambahannya. Al-Bursh juga mengisyaratkan bahwa pengaturan terakhir untuk memasukkan rumah-rumah itu ke Gaza sudah pada tahapan penyelesaian dan akan rampung pada minggu-minggu mendatang.

Kepada Al Jazeera, Senin (29/3), Al-Bursh memberikan keterangan bahwa rumah-rumah itu akan diserahkan dan didistribusikan kepada keluarga yang rumahnya paling parah dan rumah-rumah meraka yang hancur total akan mendapatkan prioritas.

Pada sisi lain, Al-Bursh mendesak adanya pelaksanaan apa yang telah ditetapkan pada konferensi Negara-negara donor di Sharm el-Sheikh untuk pembangunan kembali di Jalur Gaza, dan agar berkomitmen untuk mengucurkan empat miliar dollar, seperti sudah diputuskan dalam Konferensi itu, untuk pemilik rumah yang hancur total, dan pembukaan penyeberangan Rafah untuk masuknya bahan baku bangunan agar warga Gaza secara mudah untuk membangun kembali rumah mereka.

Untuk diketahui, masalah rumah yang hancur akibat agresi Israel itu merupakan mimpi buruk warga Gaza lantaran tertundanya proyek-proyek rekonstruksi, akibat dari kurangnya sumber daya bangunan dalam proses rekonstruksi karena penutupan penyeberangan. Walhasil, sejumlah besar rakyat Gaza masih hidup di tenda-tenda dan kamar seng dan kardus.

Dalam pandangan Rula Al-Shami (33 tahun), yang rumahnya dihancurkan akibat perang Israel itu, rumah-rumah bergerak itu tidak dapat menjadi pengganti untuk membangun rumahnya yang hancur oleh pendudukan, karena rumah bergerak itu tidak memenuhi persyaratan dasar minimum bagi komposisi keluarga suaminya dan anak-anak mereka serta kakek-nenek yang tinggal bersama mereka.

"Seharusnya yang prioritas adalah terus memberikan tekanan pada Israel untuk membuka penyeberangan atau mencari program tentatif untuk membuka penyeberangan Rafah untuk memasukkan bahan baku guna membantu pembangunan kembali rumah-rumah yang hancur itu," usul Al-Shami.

Sementara wakil dari Departemen Perumahan di pemerintahan Gaza, Ibrahim Radwan menjelaskan, rumah-rumah bergerak ini seharusnya sudah masuk ke Jalur Gaza setelah berakhirnya perang secara langsung, namun itu tertunda karena adanya pengepungan atas Gaza.(milyas/aljzr)
 

0 Komentar

Arsip