Rabu, 08 September 2010

Ketika Hujan Mengguyur Tenda-tenda Gaza

Sabtu, 31/10/2009 00:24 WIB

KNRP – Hujan kini mengguyur jalan-jalan di Jalur Gaza, gang-gang sempit, dan atap-atap rumah yang alakadarnya. Hujan itu menandai awal musim dingin tahun ini, dimana ia disambut dengan sukacita oleh anak-anak, warga dan petani yang tidak sabar lagi menunggu musim hujan itu.

Namun naas, hujan itu justru merepotkan para tunawisma yang tinggal di tenda-tenda setelah rumah-rumah mereka luluh lantak akibat aneksasi Israel atas Gaza, dan itu memaksa mereka untuk berpikir keras guna mengatasi penyembuhan luka dan pengeringan pakaian mereka setelah hujan deras membasahi mereka, tak pelak, mereka pun masygul mencari tempat yang aman supaya terhindar dari guyuran genangan dari air hujan deras itu.

Meskipun kesumringahan anak-anak kecil tergurat di wajah mereka, sembari kedua tangan mereka menengadah ke langit menyambut hujan itu, tapi tampaknya anak-anak itu tidak menyadari bahwa anak-anak sebaya mereka di tempat lain justru pada pagi hari harus hengkang terusir akibat guyuran hujan menggerus tenda-tenda tempat mereka tinggal.

Demikian juga, para petani begitu riang atas guyuran hujan setelah sebelumnya mereka harus menunggu satu tahun masa kekeringan karena kurangnya air bawah tanah. Selama setahun itu mereka terus berdoa agar mereka diberkati di akhir tahun ini dengan musim dingin yang indah.

Adalah Abed Rabbo, warga yang bermukim di utara Jalur Gaza, yang kini tinggal di tenda, usai rumahnya hancur tak berbentuk, yang merasakan bagaimana hujan pagi hari itu menjelma sebagai sebuah tragedi yang memilukan. Rabbo dan yang senasib dengannya mengatakan bahwa kehidupan mereka menjadi tak tertahankan, setelah kehilangan orang yang mereka cintai dan pembongkaran atas rumah mereka, kemudian situasi terus menerus yang menharuskan mereka berpindah tempat tinggal akibat guyuran hujan. Kini, mereka sepertinya tanpa secercah harapan apapun, dan masa depan mereka yang suram sudah menanti mereka.

”Pemandangan yang sama terulang, dimana (hujan) itu menggerus tenda yang menjadi rumah saya dan keluarga saya, dan keluhan kepada selain Allah sangatlah tak pantas," keluh Hanee Abu Gamus, seperti dikutip paltoday, Kamis (29/10).

Lebih jauh Gamus menambahkan, "Kami kini sebelumnya harus bersiap untuk hujan, tetapi kami dikejutkan oleh intensitas hujan cukup besar, yang menyebabkan kerusakan pada tenda kami akibat aliran air hujan itu yang menarik (tenda) itu."

Sementara Ummu Ahmed mengatakan bahwa meski hujan telah menghancurkan seluruh tenda, tapi tidak ada tindakan apapun. “Hujan, yang pertama dan yang terakhir, bagaimana pun nikmat Allah," imbuh Ummu Ahmed sembari menambahkan bahwa situasi hujan itu telah menjadi sebuah tragedi yang memerlukan bantuan segera.(milyas/paltoday)


 

0 Komentar

Arsip