Minggu, 01 Agustus 2010

Jeritan Tahanan Wanita Palestina: “Mereka Telanjangi Kami”

Rabu, 09/09/2009 10:19 WIB

KNRP – Berbagai siksaan dan tekanan sudah menjadi menu harian tahanan wanita Palestina di penjara Israel. Namun bagi mereka, yang paling menyakitkan adalah adanya ‘pemeriksaan telanjang’ yang kerapkali dilakukan oleh sipir penjara penjajah Zionis Israel.

Ehsan Dababisah, wanita Palestina yang pernah ditahan Israel yang kini sudah dibebaskan, adalah salah satu dari mereka yang sangat menderita akibat adanya pemeriksaan bak binatang itu. “Hal yang paling membuat para tahanan wanita cemas adalah terus berlangsungnya kebijakan yang merendahkan martabat manusia, yaitu pemeriksaan telanjang,” ujar dia kepada islamonline, Selasa (8/9) sembari mempertanyakan sampai kapan wanita-wanita Palestina itu dihinakan dan disiksa, dan tidakkah ada yang tergerak untuk menghentikan aksi tak berprikemanusiaan itu.

Lebih lanjut Ehsan menceritakan pemeriksaan telanjang terakhir yang dialaminya sebelum beberapa hari ia dibebaskan. “10 hari lalu militer Israel dengan ditemani milisi wanitanya mendadak masuk ke sel-sel tahanan, lalu di sana pemeriksaan sangat detil digelar dengan alasan untuk mencari telepon selular. Satu per satu tahanan wanita itu diperiksa secara detil dan ditelanjangi. Setiap kali tahanan wanita itu berontak, ia diancam akan dikeluarkan dari sel dalam keadaan telanjang di depan tentara laki-laki Israel,” turur Ehsan.

Terkait kondisi tahanan wanita pada saat bulan Ramadan, Ehsan menjelaskan, “Kondisi hidup mereka sangat sulit karena banyaknya pemeriksaan pada malam hari yang sangat mengganggu tanpa ada penghormatan sedikit pun atas kemuliaan bulan yang penuh keutamaan itu.”

Ehsan juga menambahkan, para tahanan wanita itu tinggal di sel-sel yang bersuhu lembab dengan serangga berkeliaran di mana-mana. Mereka juga tidak mendapatkan menu sahur dan jika ada makanan yang diberikan pun sangat buruk.

Ehsan juga meninggung tahanan wanita yang sudah mempunyai anak, dimana mereka dilarang bertemu dengan anak-anaknya yang sudah dewasa. Mereka hanya diperbolehkan dijenguk oleh anak-anak mereka yang masih kecil yang belum bisa berbicara. Inilah yang dirasakan Qahirah Saadi (vonis seumur hidup) dan Zahwa Hamdan (vonis 8 tahun).

Sementara Ummu Mahmud, sejak ditahan beberapa tahun lalu sampai saat ini belum bisa melihat anak-anaknya. Ia kini hanya bisa bermimpi untuk melihat buah hatinya dan mengetahui bagiamana nasib mereka sekarang.

Terkait kondisi kesehatan, Ehsan mengatakan, kesehatan mereka semakin parah. “Beberapa di antara mereka menderita sakit di bagian lambung. Ada juga tawanan bernama Zahwa Hamdan dan Reima Daragamah yang menderita tekanan mental. Mereka hanya mendapatkan obat penenang yang justru semakin menambah penderitaan para tahanan wanita, khususnya di Ramadan.”

Ditambahkan Ehsan, “Makanan yang diberikan kepada mereka di Ramadan sangat buruk, bahkan untuk seorang paling miskin pun. Tidak ada makanan untuk berbuka atau sahur dan makanan yang ada sangat tidak mencukupi. Masakan yang sangat buruk itu memaksa para tahanan wanita untuk membeli makanan dari kantin dengan merogoh kantong sendiri yang harganya sangat mahal. Seharga 200 shekel (53 dollar) saja tidak akan mencukupi kebutuhan primer satu orang tahanan.”

Lainnya lagi, sambung Ehsan, surat-surat yang ditujukan kepada para tahanan wanita itu biasanya diterima dalam rentang waktu yang sangat terlambat. “Sebagai contoh, keluarga saya mengirim surat kepada saya pada Ramadan tahun lalu dan baru sampai ke saya sebelum saya dibebaskan pada Ramadan sekarang.”

Kini setelah Ehsan bebas, ia membawa pesan dari rekan-rekannya yang masih mendekam di sel-sel Israel, yang ditujukan kepada orang-orang yang merdeka di seluruh dunia dan mereka yang memperjuangkan pembebasan Ghilad Shalit. “Janganlah kalian tinggalkan wanita-wanita dan istri-istri kalian di balik jeruji dan di bawah tangan musuh yang tak kenal belas kasih itu,” bunyi pesan itu.

Ehsan juga meminta kalangan media massa untuk membeberkan berbagai penderiataan para tahanan wanita itu, khususnya aksi pemeriksaan telanjang dan pelecehan-pelecahan lainnya. Kendati situasi sangat sulit, Ehsan mengatakan bahwa mentalitas para tahanan wanita itu tinggi dan mereka berharap pertukaran tawanan Palestina dengan Ghilad Shalit akan segera terwujud.

Saat ini, di penjara-penjara Israel terdapat lebih dari 11 ribu tahanan Palestina, dan 57 di antaranya wanita yang hidup dalam kondisi sangat buruk. Para tahanan itu kebanyakan berasal dari kalanagan aktifis politik, tokoh-tokoh penting pejuang Palestina. Mereka semua ditahan sejak bertahun –tahun tanpa adanya proses peradilan.(milyas/iol)
 


 

0 Komentar

Arsip