Jumat, 11/06/2010 15:49 WIB
KNRP - Dewan Pengawas Badan Energi Atom Internasional (IAEA) baru saja menuntaskan pembahasannya terkait agenda nuklir Israel, yang datang atas permintaan Grup Arab, di tengah perselisihan antara pendukung Israel dan lawan-lawannya.
Sementara negara-negara Nonblok menuntut Israel untuk ikut bergabung ke Perjanjian tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir, dan Uni Eropa dan Amerika Serikat perdebatan terkait agenda nuklir Israel itu waktunya berada di tempat yang salah.
Koresponden Al-Jazeera, Aktham Sulaiman, Jumat (11/6) lebih lanjut mengatakan bahwa kritikan-kritikan atas Israel tidak terbatas pada negara-negara non-blok, tapi termasuk untuk pertama kalinya anggota NATO, yaitu Turki.
Dia menjelaskan bahwa dukungan untuk Israel terbatas dari Uni Eropa dan Amerika Serikat di mana mereka menganggap bahwa Badan Energi Atom Internasional adalah tempat yang salah untuk menempatkan agenda nuklir Israel, dan bahwa masalah ini ada di Suriah dan Iran, tidak di Tel Aviv.
Negara-negara Arab yang didukung oleh Iran menyerukan Israel untuk bergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi Senjata nuklir, sementara Israel sendiri telah mengecam seruan itu karena itu merupakan dorongan dari negara-negara yang mempertanyakan hak Israel untuk eksis.
Negara-negara Barat memperingatkan bahwa tekanan terhadap Israel bisa mengakibatkan gagalnya langkah-langkah yang lebih komprehensif yang bertujuan untuk melarang senjata pemusnah massal di Timur Tengah.
Duta Besar AS untuk IAEA, Glen Davis mengatakan, "Apa yang dibutuhkan Kawasan ini adalah untuk bersatu bersama-sama dengan cara yang mencerminkan kerja sama dan consensus, dan ini tidak akan terjadi jika pihak-pihak yang masuk kawasan ini dalam pertukaran penghinaan dan saling menudingkan telunjuk jari ke wajah yang lainnya."
Untuk dicatat, pertemuan IAEA ini adalah yang pertama kali, di mana Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional membahas nuklir Israel sejak tahun 1991, dan itu bertepatan dengan tuntutan luas atas investigasi yang lebih mendalam atas Israel setelah serangannya terhadap konvoi kebebasan.(milyas/aljzr)